Tuesday, February 16, 2016

Your Website: Greenland, Austria and Argentina - all in the last 2 seconds

Imagine what it would be like to know EXACTLY where your visitors are coming from
in real time?

Well - with ClusterMaps you have that all with a simple 2 lines of JavaScript
and it is 
completely AT NO COST.

If you haven't been back for a while, then head on over and start getting
deep and meaningful data that can drive you more success.


Click Here to see the new ClustrMaps










Unsubscribe me from this list

Monday, January 11, 2010

"GOKIL the series" - 4: DENPASAR MOON

Pada saat lulus dari kuliah aku punya 2 target yaitu 5 tahun pertama mau kerja keliling Indonesia, dan target kedua atau tahun selanjutnya baru mau cari jodoh dan ‘stay’ kerja di suatu tempat. Alternatifnya kalau target nyari jodohnya gak ketemu maka aku mau keliling dunia untuk sekolah lagi atau kerja, kalaupun dapat bonus jodoh di lu-neg…..ya itu namanya baru takdir.

Selama kurang lebih 6 tahun sejak lulus kuliah aku sudah kerja berpindah-pindah dari Bandung-Yogyakarta-Jakarta-Bandung-Bali-Banjarmasin-Balikpapan-Pare pare-Makasar-Kendari dan sekarang ini sudah hampir 2 tahun ‘stay’ kerja di Jakarta. Artinya target pertama sudah tercapai, dan sekarang sedang dalam masa meraih target ke-2. Target ‘stay’ di suatu tempat sudah lumayan dapat, tapi target dapet jodohnya yang gampang-gampang susah……...sepertinya kok banyak susahnya..he..he..

Perjalanan nyari jodoh sebenarnya sudah dilalui….mulai punya sahabat dekat cowok…ada; iseng-iseng pacaran….lumayan pernah beberapa kali; dikibulin cowok ‘matre’…….juga sudah pernah; serius pacaran sampai patah hati ………juga ngalami; sampai dijodohin sama orang tua yang tak henti-henti dari semasa kuliah sampai sekarang……itu sih sudah biasa.

Sambil masih ‘trial & error’ berusaha meraih target-2, “alternative-‘just in case’ target ke-2 tidak tercapai” sebenarnya juga sudah kujajagi. Antara lain iseng-iseng nyari beasiswa scholarship dari British Council, AusAid dan World Bank walaupun akhirnya semua kandas karena nggak serius ngurus persyaratannya. Bahkan pacaran sama bule yang akhirnya mentok karena perbedaan ‘prinsip’ pun juga pernah kujajagi. Kacian deh...memang sudah takdirnya susah ’ber-jodoh’.

Sebenarnya aku juga sudah capai kerja keliling Indonesia dan sudah mantap akan ‘stay’ di Jakarta. Tapi gara-gara akibat keisenganku bikin susah ’anak orang’ dan terpaksa harus ’menghilang’ dari peredaran for ’his own good’, maka tawaran ‘short-project’ di Bali selama 4 bulan dari eks Team Leaderku untuk ikut bergabung dengan Konsultan Jepang, dan membantunya pada Sewerage Project di Denpasar aku terima tanpa berpikir panjang. Itung-itung 4 bulan untuk ’menghilang’ dari Jakarta dengan bekerja sambil pesiar di Bali….lumayan. Yach.... aku mau nggak mau memang harus menghindari Ervan dan terpaksa harus memutus semua kontak-ku dengannya (baca "GOKIL the series"-2). Selain itu sebenarnya aku juga sedang dijodohkan ibuku dengan seseorang yang bekerja di Bogor dan memang aku sedang berusaha menghindar biar ada alasan untuk tidak bisa ketemu dengannya, karena aku memang sedang ’malas’ untuk urusan perjodohan itu. Setelah negosiasi salary memberikan hasil yang tidak mengecewakan, akhirnya berangkat-lah aku ke Bali.

BERBURU TEMPAT KOST

Sesampai di Bali sempat seminggu tinggal di hotel sambil ’hunting’ cari tempat kost, akhirnya dapat juga yang cocok. Tempat kost ini agak mirip seperti home-stay, areanya dibagi menjadi 3 blok yang dilengkapi dengan halaman dan taman yang lumayan luas di depan setiap blok dan juga juga dilengkapi dengan kantin dan mini market. Ketiga blok tersebut dibedakan atas tipe kamarnya, setiap blok terdiri dari kurang lebih 20 kamar dengan tipe masing-masing. Blok yang pertama, setelah halaman dan taman depan, tipe kamarnya memanjang ke belakang terdiri dari teras depan, ruang tamu, ruang tidur,dapur-kamar mandi, tempat cuci-teras belakang, taman-halaman belakang. Type ini dilengkapi dengan fasilitas sambungan telepon, TV, dan AC. Di blok yang kedua, tipe kamar hampir sama dengan tipe blok pertama, hanya tidak dilengkapi dengan fasilitas sambungan telepon, TV dan AC. Sedangkan tipe kamar blok yang ketiga hampir sama dengan tipe blok kedua hanya fasilitas kamar mandi dan dapurnya tidak jadi satu dengan kamar tidur tapi kolektif dipakai bersama-sama. Walaupun terasa agak mahal tapi kuputuskan untuk memilih kamar yang di blok pertama, yang penting nyaman dan membuatku kerasan selama tinggal di Bali.

To be continued ………………………….
- MADE my driver
- SATPAM GILA
- ANJING BALI
- GOKIL KAMBUH LAGI

Saturday, January 19, 2008

"GOKIL the series"-3 : JON BON JOVI

SMS

“New Year, New Hope….a blessed year for you (Roland)”, agak kaget begitu kubaca SMS itu. Seingatku sekitar tiga bulan yang lalu aku dapat SMS ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri atas nama Roland juga. Walaupun aku meragukan kalau SMS itu dari dia, tapi aku balas juga. Karena kupikir, nggak ada salahnya kalau aku balas memberinya ucapan Selamat Hari Raya juga, terserah siapapun dia. Dan setelah itu, tidak pernah terlintas dalam pikiranku untuk mengecek atau mengontak nomor HP atas nama Roland itu. Kini aku jadi malah bertanya-tanya lagi. “Apa benar SMS ini dikirim si Roland? Kenapa dia tiba-tiba kirim SMS ya…padahal sudah hampir 4 tahun kita tidak pernah kontak sama sekali,” batinku. Tapi akhirnya kubalas juga SMS itu, kuucapkan terima kasih dan Selamat Tahun Baru juga.

Aku jadi teringat kembali kejadian konyol sekitar 4-5 tahun lalu dengan Roland gara-gara gokil-ku kumat. Sebenarnya kalau dia nggak nantang, mungkin aku juga tidak akan meng-gokil-i dia, salah sendiri “membangunkan singa betina tidur”…he..he... Untungnya kita berdua masih pada waras dan tidak ada yang sakit hati, dan akhirnya saling berjanji untuk tidak menceritakan kejadian konyol itu kepada siapapun.

JON 'Roland' BON JOVI

Roland adalah kakak angkatanku ketika kuliah. Dulu aku pernah jadi ‘secret-admirer ‘-nya, tepatnya semenjak aku ketemu dia ketika mahasiswa angkatannya menjadi panitia ‘ospek’ mahasiswa angkatanku. Di tengah-tengah ‘ospek’, setiap ada kesempatan aku selalu tergoda ingin memperhatikan dia melulu, lumayan juga untuk mengobati penderitaan siksaan selama ‘ospek’. Dia sangat menarik perhatianku karena selain memang cakep, dia terlihat berbeda diantara cowok-cowok kakak angkatan itu. Tampangnya agak kebule-bulean, kulitnya putih, badannya tinggi besar, rambutnya gondrong..hitam kecoklat-coklatan, matanya tajam kebiru-biruan kayak mata kucing, dan bibirnya tipis kemerahan, kujuluki dia ‘Jon Bon Jovi’ karena wajahnya nggak jauh beda dengan bintang rock idolaku saat itu.

Yang bikin aku jadi ‘secret-admirer ‘ dia adalah “I think-he is very cool” dalam arti dua-duanya yaitu ‘dingin’ dan ‘keren’. Anehnya, selama kuliah itu aku tidak pernah kenal dengan dia, paling hanya sekedar tahu saja kalau kita sama-sama kuliah di jurusan yang sama cuma beda angkatan. Padahal ada beberapa mata kuliah yang dia harus ambil ulang berbarengan satu kelas dengan angkatanku, dan juga akhirnya kita diwisuda pada tahun yang sama. Mungkin karena aku nggak pe-de untuk mengenalnya dan dia terlalu dingin pembawaannya. Ya..sutra-lah….cukup jadi ‘secret-admirer ‘ – nya saja.

KETEMU LAGI...NIH..

Setelah sekitar 8 tahun akhirnya secara kebetulan kita bertemu dalam satu proyek besar di Jakarta yang dikerjakan oleh asosiasi beberapa konsultan asing dan lokal. Aku dibawah ‘Lead-firm consultant ‘ dan dia dibawah salah satu ‘associate consultant’-nya. Hari pertama dia datang, ‘Team Leader’-ku langsung memanggilku ke ruangannya dan mengenalkannya sebagai pengganti salah satu engineer dalam group desainku yang mengundurkan diri. Sebagai ‘Group Leader’ aku diminta memperkenalkan dia ke seluruh ‘project-team’ dan kemudian menerangkan ‘job-description’ dia dalam group desainku. Pertama melihatnya aku sempat terkaget-kaget waktu itu, “Semprul, ini khan Roland, kok masih cakep saja si ‘Jon Bon Jovi’ ini, gawat nih” batinku, tapi aku berlagak nggak kenal saja sama dia. Baru setelah keluar dari ruangan ‘Team Leader’, si Roland protes “..hi…sombong bener sih, kamu Aya angkatan’88 khan, aku Roland angkatan’86,” katanya. “Iya….tahu….tapi khan kita nggak pernah kenal waktu kuliah dulu,” jawabku tengil. “Ok, deh..ibu ‘Group Leader’, perkenalkan nama saya Roland sebagai pengganti ‘design-engineer’ dalam group desain ibu,” katanya sambil tersenyum tengil juga. Aku hanya bisa tersenyum geli melihat tingkahnya, akhirnya kuperkenalkan Roland ke seluruh ‘project-team’ dan kemudian kuterangkan semua desain-desain yang selama ini sedang kita kerjakan dan apa yang menjadi ‘job-description ‘ dia.

THE DREAM TEAM

Team dalam proyek ini dibagi dalam beberapa group kerja dibawah ‘Team Leader’, dan setiap group kerja terdiri dari beberapa ‘engineer’ dan beberapa ‘supporting staff’ yang dipimpin oleh ‘Group Leader’. Dalam group kerjaku yang disebut sebagai ‘group desain’, ada 6 ‘engineer’ yaitu Aku, Adi, Bimo, Baldi, Safri, Roland dan 3 ‘CAD-operator’ yaitu Irwan, Koko, dan Yudi. Kebetulan aku adalah cewek satu-satunya dalam group ini dan dijadikan ‘Group Leader’ pula oleh ‘Team Leader’. Tetapi dalam satu group, kita bekerja dan bergaul kayak teman biasa saja serasa tidak ada batasan atasan atau bawahan, yang penting masing-masing bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Akupun tidak merasa canggung bekerja dengan semua cowok-cowok dalam groupku, malah lama-lama aku jadi maskulin juga, walaupun pastinya aku masih yang tercantik dalam group itu…he..he…..

Si Adi adalah teman seangkatanku semasa kuliah, dia ‘engineer’ yang tidak banyak omong, jago komputer, kalau sedang bekerja tampangnya kelihatan serius banget dengan kaca mata minusnya, makanya kujuluki ‘Professor Kimbin’. Si Bimo adalah engineer yang pembawaannya ‘cool’’, kerjaannya bagus dan rapi, sportif ke teman, tampangnya ganteng-jawa, dan kujuluki dia ‘Mas Pendowo’. Si Baldi adalah ‘engineer’ tertua diantara kita, kerjanya cenderung ‘alon-alon waton kelakon’, tampangnya sudah bapak-bapak, dan karena dia berasal dari Sumbar kujuluki ‘Uda B’. Si Safri adalah ‘engineer’ terkonyol dan selalu jadi bulan-bulanan kita kalau sedang bercanda, walaupun sama-sama orang Sumbar dia sering nggak akur dengan ‘Uda B’, tapi dia sangat penurut dan nggak pernah sakit hati walaupun sering diolok-olok, julukan dia adalah ‘Datuk Maringgih’ karena dia adalah ‘bujang lapuk’ yang hobbynya menggoda para sekertaris di proyek kita. Si Roland sebagai ‘new comer’ ternyata cepat beradaptasi juga dalam groupku, kerjaannya juga bagus dan sangat teliti terutama dalam program perhitungan desain, suka bercanda yang ‘nyerempet-nyerempet jorok’, dan dia adalah ‘engineer’ ter-‘bening’ dalam group desain, kujuluki dia ‘NKOTB’ alias ‘New Kid on the Block’. Aku sendiri dijuluki ‘Miss Gokil’ sama cowok-cowok itu.

Si Irwan adalah ‘CAD-operator’ yang jago dalam program drafting, penampilannya rapi dan necis kalau berpakaian, julukanku ke dia adalah ‘Pak Pejabat’. Si Koko adalah ‘CAD-operator’ yang selebor, pakai baju nggak pernah rapi, matanya selalu kelihatan ngantuk, tapi dia adalah ‘CAD-operator’ yang paling kuat lembur malam bahkan seringnya tidur di kantor, kujuluki dia ‘si Embah’ penunggu kantor. Si Yudi adalah ‘CAD-operator’ paling pendiam dalam group desain, sering suka grogi terutama kalau dideketin cewek, tapi dia kerjanya cepat dan proaktif konfirmasi ke ‘engineer’ kalau dirasanya ada perintah gambar yang salah, kujuluki dia ‘Mr.Black’ karena kulitnya paling item diantara kami semua.

Sifat masing-masing tersebut memang berbeda-beda, tapi kalau sudah bercanda semuanya pada nyambung. Apalagi kalau bercandanya tipikal ‘candaan-cowok’ yang sukanya nyerempet-nyerempet jorok dan agak mesum, semua bakat ‘gokil’ terpendam mereka akhirnya keluar juga. Ditambah lagi sejak ada Roland, makin seru saja kalau sudah bercanda, ada saja bahan gokil-an di kepalanya. Menghadapi candaan mereka, aku ‘cuek bebek’ saja, bahkan kadang malah ikutan nimbrung. Paling-paling kalau sudah kelewatan dan kelamaan bercandanya, baru ku-‘semprit’.

Selain kompak dalam bercanda, group kita juga kompak arisan, tapi bukan arisan uang melainkan arisan traktiran setiap bulan sekali. Yang dapat arisan harus men-traktir semuanya untuk ‘hang-out’ di jum’at malam, jenis traktirannya boleh apa saja terserah yang dapat arisan dan kondisi koceknya masing-masing. Seringnya adalah traktiran makan bareng, kadang juga nonton film atau karaoke bersama. Makan barengnya pun bisa kemana saja, bisa di café sambil menikmati musik dan ‘goyang’, atau restaurant, atau warung tenda, atau lesehan nasi kucing pun nggak masalah, yang penting tempatnya nyaman buat nongkrong dan makanannya enak.

Tapi terkadang timbul juga perselisihan-perselisihan kecil diantara mereka, baik yang berhubungan dengan pekerjaan maupun hal pribadi. Dan kalau sudah begitu, disitulah aku dituntut untuk pandai-pandai memposisikan diri dalam menyelesaikan masalah. Kalau berhubungan dengan masalah pekerjaan, lebih mudah mengatasinya karena biasanya bisa ditengahi dan diatasi secara teknis, dalam rapat regular group setiap minggunya atau rapat khusus yang bisa kita adakan kalau ada permasalahan ‘urgent’. Kalau perselisihan tersebut menyangkut hal pribadi, aku netral tidak akan ikut campur dan biasanya lebih kubiarkan mereka menyelesaikannya sendiri, paling satu atau dua hari mereka sudah akur. Tapi kalau sudah lebih dari tiga hari mereka belum akur, dan kurasa kalau dibiarkan akan mengganggu kenyamanan bekerja, maka baru kuputuskan turun tangan menjadi mediator yang senetral mungkin diantara mereka. Kita bicarakan bareng permasalahannya, dan yang jelas kuminta mereka sebagai orang dewasa dan ‘proffessional’ mencari solusinya. Cara tersebut ternyata bisa berhasil meredam perselisihan dan menjaga kekompakan dalam group kerja kita.

Dalam hal pekerjaan semuanya sangat bertanggung jawab dengan ‘job description’ masing-masing. Terbukti bos bule ‘Team Leader’-ku sering memberikan apresiasi lebih terhadap hasil kerja group desain. Itulah yang membuatku sangat nyaman kerja bareng dengan group kerjaku, ‘ser-san’ sebutannya atau serius tapi santai, aku jadi merasa sangat beruntung bekerja dengan ‘team-work’ yang kompak.

'SOMETHING' about ROLAND & ME

Walaupun kita masih bercanda dan ‘hang-out’ bareng seperti biasa, tapi lama-kelamaan terasa ada yang lain dari si Roland. Selama ini aku memang jarang makan siang keluar, biasanya hanya pesan ke kantin belakang kantor untuk diantarkan makan siang dan aku makan di ruanganku. Tapi sejak ada Roland, aku sering diajaknya bahkan kadang dengan setengah memaksa untuk makan siang bareng berdua di luar. Selain itu aku juga merasakan kalau sedang bercanda, dia sering kelewatan gokilnya ke aku.

Dari obrolan kalau makan siang bareng berdua, aku akhirnya jadi tahu tentang pekerjaan maupun kehidupan Roland selama ini. Ternyata sebelum wisuda, dia sudah bekerja di beberapa perusahaan konsultan dan kontraktor dan akhirnya setelah wisuda dia membuat perusahaan konsultan dan kontraktor sendiri dengan beberapa temannya. “Itulah Aya, makanya kuliahku terlambat dan wisudanya jadi bareng kamu waktu itu, bukannya ‘idiot’ tapi nyambi kerja,” katanya mencoba memberikan alasan kenapa dia lelet kuliahnya. Perusahaannya tersebut sempat berkembang pesat sebelum akhirnya krisis ekonomi Indonesia ikut andil menyurutkan usahanya. Proyek-proyek makin susah didapat, kalaupun ada nilainya kecil dan kurang memberikan ‘profit’. Untuk tetap menghidupkan perusahaannya, akhirnya dia sering hanya menjadi ‘sub-contractor’ perusahaan besar atau bahkan dengan tidak sungkan dia terjun kembali sebagai ‘engineer’. Mengetahui usahanya untuk meraih kesuksesan dan keuletannya menghadapi kesulitan tersebut, salut juga aku ke Roland.

Tapi kalau mengetahui kehidupannya selama ini, aku hanya bisa geleng-geleng kepala saja mendengar ceritanya. Dia bisa dibilang kawin muda (ya minimal kalau dibandingkan dengan aku yang sampai kepala 3 masih jomblo saja), karena setelah wisuda dia langsung nikah dengan anak Fisip Unpad. Entah karena apa, setelah punya anak dua perkawinannya tidak harmonis lagi, dan dia hidup terpisah dari anak isterinya. Akhirnya dia-pun menjalani kehidupan ‘hedonis metropolitan’. Walaupun katanya dia tidak suka nge-‘drug’ dan nge-'drunk' (memang aku agak percaya kalau kulihat dari hobbynya nge-‘gym’ dan penampilan tubuhnya yang ‘fit’ itu), tapi dia terus terang kalau suka menjalani kehidupan ‘free-sex’.

”Kebiasaanku memang kayak bule-bule di film itu Aya, tapi menjalaninya harus ‘suka sama suka’ dan ‘no commitment’. Tapi aku orangnya ‘picky’ dan penganut ‘safe-sex’ juga. Jadi aku tidak akan sembarangan memilih teman kencan, karena terus terang aku ngeri kena HIV/AIDS,” katanya. Dengan bangganya dia mengaku kalau dia sudah jago menilai tipe-tipe cewek, dan memilih mana yang ‘safe’ dan mana yang tidak. Katanya salah satu tipe cewek yang ‘safe’ adalah biasanya cewek kantoran, entah yang masih jomblo ataupun yang sudah ‘married’. Tapi dia nggak suka kencan dengan jomblo yang masih ‘virgin’, katanya dia nggak mau cewek itu nanti menyesal seumur hidup gara-gara kehilangan keperawanannya oleh dia, dan dia tidak terlalu ingin terlibat dengan emosi sentimentil seperti itu.

“Lu ‘emang gila ya ‘Land. Untung gue bukan tipe ‘lu“, kataku mengomentari petualangannya itu. “Bukan tipe-ku ‘gimana Aya ? ‘Kau khan cewek kantoran yang jomblo, tipe gue banget. Maksudmu kamu tidak akan mengaku kalau masih ‘virgin’ khan ?” katanya tengil. “Kalau bener, memang kenapa ‘Land?” jawabku enteng. “Ya, gue sih agak meragukannya Aya. Aku tahu kok, kalau ‘lu dulu pernah pacaran sama bule, semua temanmu angkatan’88 khan tahu, dan kebetulan juga Irwan’88 kasih tahu aku. Memangnya bulemu itu tahan membiarkan dirimu masih ‘virgin’ ?” ledeknya. “Semprul lu,….’up to you’, ‘lu anggap gue ‘virgin’ atau nggak,‘Land…gak penting…” semprotku. Tapi aku sangat kesal dan mengumpat-umpat juga dalam hati dengan ke-kurang ajar-annya itu. “Dia nggak tahu, buleku kuajari adab orang timur. Jadi nggak ada ‘free-sex’ dalam kamusku, dan walaupun rasionya ‘1 : berjuta-juta’ pasti adalah bule yang mau diajak ‘sedikit beradab’. Dasar semprul si Roland ini.”

Tapi yang bikin aku mati kutu adalah, Roland tahu juga kalau ketika kuliah dulu aku jadi ‘secret-admirer’ dia. Suatu siang pas kita makan bareng, dia dengan agak serius mencoba konfirmasi ke aku. “Aya, aku mau nanya jujur, tapi kamu jangan marah ya. Tapi kalau nantinya ‘lu tersinggung dan marah ke aku, ya ‘sorry’ saja sebelumnya dan aku siap menanggung resiko kau marahin kok. Sandy’88 alias si Rocky pernah kerja bareng aku, dan dia pernah cerita kalau ada cewek angkatan’88 yang sedari ‘ospek’ sampai selama kuliah jadi ‘secret-admirer’-ku, bahkan aku mendapat julukan ‘Jon Bon Jovi’ dari dia. Cewek itu adalah salah satu teman ‘metal’’-nya. Karena gue penasaran, akhirnya ku-cek ke Irwan’88 siapa cewek ‘metal’ di angkatan’88. Kata si Irwan, hanya ada 2 cewek ‘metal’ di angkatannya yaitu Rocky dan Aya, dan mereka berdua katanya memang akrab. Nah, berarti Aya teman’metal’ si Rocky, yang jadi ‘secret-admirer’-ku itu, tidak lain dan tidak bukan adalah kamu dong, ” tebaknya setelah panjang lebar dia bercerita. Bukannya marah, tapi aku malah tertawa terbahak-bahak dan mengaku saja akhirnya, walaupun aku mati kutu dan membuat dia ke-pe-de-an. “Semprul, ketahuan juga,” batinku.

'METAL'...euy...

Walaupun kayaknya nggak banyak cewek yang hobbynya musik cadas, tapi semasa kuliah aku adalah salah satu penggemar berat musik cadas ‘rock/metal’. Setiap ada album terbaru dari band-band favoritku pasti kubeli, kalau duit lagi cekak bahkan terpaksa kubela-belain merekamnya dari kaset milik teman cowokku sesama penggemar musik cadas, yang kebanyakan kuliah di jurusan pertambangan dan geologi. Kaset ‘rock/metal’ koleksiku semasa kuliah sangat lengkap, mulai grup band Sepultura, Metallica, Helloween, Testament, Guns ‘N Roses, Bon Jovi, Mr.Big, Best of Rolling Stones, Best of Deep Purple, dll. Dari semua teman cewek di angkatanku, hanya Rocky-lah yang punya hobby sama sebagai maniak ‘rock/metal’, makanya dia mendapat panggilan ‘Rocky’ karena hobby dan gaya-nya nge-rock serta tingkahnya sangat tomboy.

Aku jadi akrab dan dekat dengan Rocky, selain karena selera musiknya sama, dia juga mahasiswi cerdas yang bisa ngajarin mata kuliah yang sulit ketika belajar bareng menghadapi ujian. Dan aku pun nggak heran kalau gelar ‘cum laude’ pun akhirnya diraihnya sewaktu diwisuda. Kita pun juga nggak pernah main rahasia-rahasia-an kalau ngomongin masalah cowok. Walaupun kalau lagi ngeceng cowok cakep, kita sering kalahnya dengan teman cewek yang lebih cantik tentunya (maklum tampang kita memang cuma standard), dan akhirnya kebanyakan cuma jadi ‘secret-admirer’-nya saja. Tapi hal ini malah jadi bahan seru bercandaan dan olok-olokan diantara kita. Begitu pula tentang si Roland yang kujuluki ‘Jon Bon Jovi’ , menjadi olok-olokan favorit si Rocky ke aku. “Sebagai ‘metal-ers’ ‘lu memang cemen Aya, beraninya cuma memberi julukan saja,” begitulah salah satu komentarnya. Tapi kubiarin saja olok-olokan itu, karena begitulah gaya si Rocky, suka ngompor-in untuk berbuat ‘gila’ khas ‘metal-ers’. Aku seringnya lebih suka dibilang cemen daripada menuruti berbuat ‘gila’. Sekarang aku nggak habis pikir saja, kok ya bisa-bisanya si Rocky ini ketemu dan kerja bareng sama si Roland, pakai cerita-cerita lagi. Dasar semprul.

FLIRTING...nih..

Setelah itu, semakin hari semakin gokil saja bercandanya si Roland ke aku. Salah satu contoh saja sewaktu kita membahas hasil survey, yang salah satunya adalah tentang kondisi ‘wastewater management’ hotel-hotel di daerah survey. Entahlah, apa yang ada di otak gokil si Roland waktu itu, di akhir pembahasan dengan entengnya dia nyeplos “Aku sudah tahu dan merasakan semua fasilitas hotel di Jakarta ini lho Aya, dari yang bintang 3 sampai yang bintang 5. Kalau kau berminat, aku bisa merekomendasikan dan mengajak ‘lu untuk kita nikmati bareng..he..he…?” Dasar semprul, kubalas saja juga dengan iseng, “Kalau gue mau ‘ntar lu bingung..he..he…” Kayak nggak mau kalah, masih dibalasnya isengku, “Siapa takut, mau kapan dan dimana?” katanya sambil ditatapnya mataku dengan tatapan nakalnya. Hal ini sering banget diulang-ulangnya, bahkan sering bikin aku ‘sal-ting’ menghadapinya.

Awalnya bercandanya yang kelewatan itu kuanggap biasa-biasa saja dan nggak serius, tapi akhirnya aku bisa menangkap ‘sinyal-sinyal gokil nakalnya’. Isengku pun akhirnya kumat juga….tidak tahan untuk tidak membalas ke-gokil-annya selama ini….he…he…. Aku jamin kalau aku akan ‘lulus gokil’ dengan ‘cum laude’ kali ini.

Kita bercanda masih seperti biasa, tapi kalau si Roland bercandanya sudah iseng ‘menjurus nakal’, aku yang biasanya cenderung menghindar, kali ini kubalas dengan iseng menggoda juga. Setiap kali dia menatapku dengan mata kucingnya, kubalas dengan tatapan dan lirikan menantang. Kalau sedang makan siang bareng, kubiarkan dia menggombaliku dengan semua rayuannya. Yang jelas aku ingin memberikan kesan bahwa ‘aku tergoda untuk berkencan dengan dia’. Tapi aku masih menolak setiap kali dia mau mengantarku pulang.

Setelah ‘scenario’ itu berjalan hampir 3 minggu, aku merasa bahwa gokilku mulai kemakan juga sama si Roland. Jum’at sore itu menjelang akhir jam kerja, cowok-cowok pada bercanda membicarakan ciri-ciri cewek dan cowok yang masih ‘virgin’. Aku sebenarnya lebih banyak mendengarkannya, karena memang aku tidak tahu banyak tentang itu. Tapi dasar si semprul Roland, tiba-tiba saja gokil nyeletuk, “Aya, ‘lu jangan pura-pura diam dong, sebagai seorang yang mengaku masih ‘virgin’, komentar dong apakah bener ciri-ciri cewek ‘virgin’ itu seperti yang kita omongin tadi. Kalau ‘lu nggak bisa komentar, berarti ke-‘virgin’-anmu diragukan.” Aku geleng-geleng kepala mendengar celetukan itu. “Sompret ‘lu, kalau mau membuktikan ke-‘virgin’-an bukan disini tempatnya, tunggu ‘tanggal dan teman mainnya’ saja,” balasku. Begitulah, akhirnya kita saling timpal-menimpali candaan gokil sore itu sampai akhirnya mereka bubaran pulang.

GOKIL...siapa takut..

Seperti biasa aku memang pulang yang paling akhir diantara mereka, biasanya aku sendirian di ruangan menyelesaikan ‘checking’ desain yang mereka buat. “Mbak-kita ini kok masih sibuk saja sih, nggak nyadar kalau ini ‘week-end’.. ya…,” tiba-tiba si Roland sudah berdiri di depan meja mengagetkanku. “Ah, kamu ‘Land, bikin jantungku mau copot saja. Kok ‘lu belum pulang, bukannya tadi sudah bareng-bareng sama yang lain keluar kantor ?” kataku sambil masih terkaget-kaget. “Sengaja, nungguin kamu. Pengin tahu apa ada yang jemput kalau ‘week-end’ pulang malam-malam begini,” jawabnya enteng. “He…he…mau tahu aja kau ini, memangnya kenapa?” kataku pendek. “Kalau sudah ada yang jemput, ya terpaksa dengan ikhlas aku akan pulang, tapi kalau ternyata nggak ada, aku ada rencana buat kamu”, katanya kemudian.

“Rencana apa-an ‘Land,” pancingku. “Aku mau ngomong serius berdua sama kamu Ay’, kayaknya harus malam ini,“ jawabnya. “He…he….ngebet amat….memangnya kamu ini kenapa sih….lagi kesambet ya ‘Land,” ledekku. “Aya…Aya…kamu itu….memang ya…..sukanya cuek saja mempermainkan perasaan dan bikin orang penasaran saja,” katanya. “Emang ‘lu punya perasaan ya ‘Land…he..he…,” timpalku. “Tuh…khan….serius ‘dikit kenapa sih Ay’…dengerin dulu gua mau ngomong nih,” protesnya. “Ok, I’m listening….go on…,” kataku kemudian. “Terus terang semakin hari gua semakin tertarik saja sama kamu Ay’. Gue sangat menikmati banget kalau merhatiin gaya kerja ‘lu ‘leading our group’, terus ketika ‘lu gokil dan nyantai saja menghadapi kita-kita cowok yang bercandanya sering kurang ajar. ….’ looks sexy, you know’…. apalagi akhir-akhir ini gaya gokilmu nantang bener. Tapi setiap kali gua ajak ‘lu jalan, atau sekedar ngantar ‘lu pulang saja, selalu kau tolak. Tahu nggak, gue gemes dan penasaran banget, sampai-sampai bikin tidur malam gue sering nggak nyenyak sama sekali. Nah, minggu depan ‘assignment’-ku di proyek ini khan sudah selesai dan aku harus balik ke perusahaanku ngurus proyek baru. Walaupun selama ini kamu selalu menolak ajakanku untuk jalan bareng, tapi malam ini aku harus bisa mengajakmu nge-‘date’. Gue tergoda dengan tantangan ‘lu tadi sore, terserah kamu mau pilih hotelnya dimana,” katanya panjang lebar dengan mimik serius tapi masih kelihatan tengilnya.

“Semprul juga nih orang, yakin bener kalau gue mau diajak kencan sama dia, memang gue tolol mau bukti-in ke-‘virgin’-an ke dia, dasar sompret. ‘Ok’..kalau mau ngajak iseng gue-jabanin,” batinku sambil mengumpat. Kupandang Roland dengan tatapan gokilku, dan berkata dalam hati “It’s show time…he..he…..”

“Kamu serius ngajak kencannya, ‘Land,” kataku kemudian menanggapinya. “Pandang kedua mataku Ay’, kelihatan bohong nggak?” jawabnya malah balik bertanya. “Emang gue ‘lie detector’,” ledekku sambil kembali membuka-buka gambar desain di meja. “Kok malah balik kerja sih, kamu menolak ajakanku lagi Ay’?” tanyanya merajuk. “He…he…he…siapa yang nolak,” jawabku tengil. “Artinya ‘lu mau kencan sama aku malam ini Ay’”, katanya. “May be…tapi ada syaratnya ‘Land,” kataku. “Whatever it takes Ay’, just name it,” jawabnya. “Ok, pertama : aku nggak mau ada yang tahu kalau malam ini kita kencan; kedua : ‘it’s only one night stand’ itung-itung buat ‘farewell-party’ berdua; ketiga : aku mau di hotel yang keren dan bukan yang ecek-ecek; keempat : sekarang kamu duduk manis tunggu-in aku sampai selesai ‘checking’ desain,” kataku kemudian. “Ok, no problem,” jawabnya enteng. “Tapi daripada bengong, kubuatin kopi dulu Ay’ dan ‘ntar kubantuin ‘checking’,” lanjutnya dan dengan segera dia beranjak ke ‘pantry’. “Ok, thanks,” kataku sambil tersenyum simpul.

Sekitar jam 7 kita berdua telah menyelesaikan ‘checking‘ desain yang akan aku presentasikan hari Senin depan. Akhirnya kita keluar kantor menuju parkiran mobil di belakang. “Aku mau taruh tas di mobil dulu, Ay’. Dan biar kencan kita nggak ketahuan, mobilku aku tinggal disini, kita naik taksi saja,” katanya. Aku hanya tersenyum saja meng-iya-kan. Tak lama kemudian kita sudah berada dalam taksi yang siap mengantar kita kemana saja. “Ok, sekarang kamu harus sebutin segera mau ke hotel mana Ay’, ‘it’s up to you’,” kata Roland. Aku jadi agak bingung dan mulai sedikit ‘nervous’ juga untuk menjawabnya. “Waduh, kita beneran sudah mau ke hotel nih, kayaknya harus diajak puter-puter dulu si Roland, biar nggak ketahuan ‘nervous’-ku” kataku dalam hati. “Mendingan kita jangan langsung ke hotel deh ‘Land, makan malam dulu saja ya,” jawabku. “Makan malam khan bisa sekalian di hotel Ay’, ‘room service’ saja, kita bisa ‘candle light dinner’ berdua di kamar, khan romantis,” katanya. “Iya sih…..tapi kayaknya aku masih pengin menikmati malam di luar kamar hotel ‘Land,” kataku sambil pura-pura merajuk, padahal aku ‘nervous’. “Ok, deh…..kita jalan-jalan dulu saja sambil cari makan malam. Sekalian aku mau beli ‘T-shirt’ buat ganti dan bisa beli-in sesuatu buat kamu Ay’,” katanya setuju. Akhirnya kita putuskan untuk jalan-jalan dan makan malam di Pasaraya.

“Kamu bisa pilih apa saja Ay’ : baju, sepatu, tas, parfum, kosmetik, dll, ‘whatever you like’,” kata Roland sesampai kita di Pasaraya. “Kita cari ‘T-shirt’ buat kamu dulu saja ‘Land, yang sudah jelas nyarinya,” jawabku. “Ok, tapi kamu yang pilihin…ya...Ay’,” katanya merajuk. “Kenapa aku yang harus milihin ‘Land?” tanyaku. “Bak pasangan yang lagi romantis, aku juga pengin merasakan ‘your care,hon’..,” jawabnya sedikit menggombal. “He…he…ok deh….kacihan…jablay,” ledekku. Kupilihkan ‘polo-shirt’ warna coklat-gelap sedikit bermotif garis buat Roland dan kuantar dia ke ‘fitting-room’ untuk mencobanya. “Ok, Ay’…aku suka yang ini, cakep khan di aku,” katanya. “Iya dong…siapa dulu yang milihin..he..he…,” jawabku sekenanya. “Memang dasarnya ‘lu sudah cakep kok ‘Land, baju apa saja kayaknya pantes-pantes saja di badan ‘lu,” batinku mengakui kegantengannya. “Sekarang gantian nyari sesuatu buat kamu Ay’, sudah tahu mau pilih apa?” tanyanya selesai membayar ‘T-shirt’ dari kasir. “Aku lagi nggak pengin apa-apa ‘Land, mendingan kita cari makan malam di ‘food-court’ yang di lantai bawah saja ‘yuk,” jawabku mencoba mengelak. “Nggak bisa gitu dong Ay’, pokoknya aku harus beli-in sesuatu buat kamu. Kalau kamu nggak mau pilih, aku yang akan pilihin,” katanya setengah memaksa. “He…he…ngotot amat….nggak usah deh, ‘Land,” kataku. “Ok, deh… aku antar kamu ke ‘food-court’ dulu Ay’, ‘ntar sambil nungguin pesanan makanan, aku balik ke atas nyari-in sesuatu buat dikau sayang,” katanya tetep maksa. Aku hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala saja melihat tingkahnya.

Setelah kurang lebih 15 menit kutungguin di ‘food-court’, Roland muncul dengan membawa bingkisan kecil di tangannya. “Ini buat kamu Ay’, boleh langsung dibuka kok,” katanya setelah dia duduk di sampingku. Kubuka bingkisan itu, dan ternyata berisi parfum kesukaanku. “Kok ‘lu tahu aku suka parfum ini, siapa yang kasih tahu ‘Land,” tanyaku agak penasaran kok dia tahu juga. “Setiap kali berdekatan dengan kamu, kucium bau parfum ini Ay’, lama-lama khan hafal dan kucari tahu saja merknya,” jawabnya. “He….he…tahu aja ‘lu…but thanks anyway,” kataku agak kagum juga dengan kepekaan indra penciumannya. Tak berapa lama kita sudah asyik menyantap ‘steak’ dan minuman pesanan kita. Sekitar jam 9 kita selesai makan malam dan siap pergi ke hotel. “Ay’, sekarang kamu tinggal milih mau ke hotel mana, yang di sekitar sini atau di sekitar Thamrin sana,” tanya si Roland. “Yang dekat Thamrin saja ‘Land,” jawabku kemudian. “Lumayan buat ngulur waktu,” kataku dalam hati. “Ok, kita ke HYATT saja ya,” katanya. “Ok,” jawabku singkat padahal aku masih nervous.

Sesampai di hotel, Roland langsung ke ‘receptionist’ untuk registrasi ‘check-in’, sementara aku jalan-jalan di lobby sambil menunggu. “Our room is ready, hon’ …….yuk langsung keatas” kata Roland menghampiriku selesai registrasi. “Ok,” jawabku singkat dan kemudian kita langsung menuju lift. “Mampus gue …. ‘what next’ …’ think’ Aya… ‘think’ … ‘quickly’ ….,” aku tambah ‘nervous’ saja dan ngomel sendiri dalam hati. Akhirnya sampailah kita di depan kamar dan Roland langsung membuka pintunya. “Yuk…masuk sayang,” katanya sambil menatapku mesra. “Aduh,….kayaknya bingkisan dari kamu tadi tertinggal ‘Land, kalau nggak salah tadi kutaruh di kursi di ‘lobby’, aku ambil dulu sebentar ya,” kataku. “Aya....ada-ada saja sih…ya sudah, kuantar kebawah lagi yuk,” katanya. “Sendiri juga berani kok…kamu masuk saja dan tungguin aku di kamar ya sayang,” jawabku sedikit menggombal dan kemudian langsung bergegas ke arah ‘lift’. “Ok, hati-hati ya,” teriak Roland masih sambil berdiri di pintu kamar.

KENA...deh...

Sesampai di ‘lobby’ bawah aku langsung memanggil taksi dan minta diantar ke Plaza Senayan. “Wuih….akhirnya….berhasil juga,” kataku dalam hati sambil tersenyum-senyum kecil sendiri di dalam taksi dan kemudian ku-OFF-kan HP-ku. Sesampai di Plaza Senayan aku langsung menuju ke Starbuck Coffee, untuk santai menikmati cappuccino sambil menghilangkan ‘nervous’-ku, dan kembali ku-ON-kan HP-ku. Karena aku yakin si Roland pasti bakalan menelepon, jadi aku sudah bisa nyantai juga menjawabnya.

Bener saja, begitu HP kubuka…langsung saja nongol rentetan SMS dari Roland….dan tak lama kemudian Roland langsung telpon. “Aya, kamu dimana sih……aku bingung nih…kutungguin lama di kamar nggak nongol-nongol…kucari di’lobby’ nggak ketemu…..kutelpon nggak ‘connect’ ….. aku khawatir ada apa-apa sama kamu Ay’ ..…’what’s the matter hon’…?,” tanyanya bertubi-tubi. “He..he..he….’sorry but thanks’ bikin ‘lu bingung dan mencemaskan aku ‘Land, aku sekarang sudah di Starbuck Coffee Plaza Senayan,” jawabku enteng. “Oh…’Thanks God’….kususul kesana sekarang juga, ‘lu jangan kemana-mana Ay’,” katanya kemudian. “He….he…he….,” jawabku hanya dengan tertawa kecil sambil kututup handphone dan kembali menikmati ‘my delicious cappuccino’.

Tak berapa lama si Roland nyampai juga di Starbuck Coffee, dan langsung duduk tepat dihadapanku sambil menatapku tajam. ”Aya…I need an explanation?” katanya. Sambil tersenyum kujawab dengan enteng, “The game is over, Roland.” Kuperhatikan muka si Roland langsung merah padam dan kemudian tampangnya redup dan lemes seakan nggak percaya dengan kata-kataku. “What…..jadi ‘lu hanya pura-pura saja mau kuajak kencan?” katanya. Aku hanya bisa cengar-cengir saja menatapnya. Tak lama kemudian setelah ‘temporary shock’ dia bisa kembali tenang, “Memang dari awal sebenarnya aku meragukan kalau ‘lu mau kencan sama aku Ay’, tapi nggak tahu, kok aku bisa sampai terhanyut juga dengan permainan ‘lu…’I’m shock…you know’…,” katanya sambil geleng-geleng kepala dan sudah bisa tersenyum kembali. “But, it’s ok….aku bisa terima kekalahanku kali ini,” lanjutnya kemudian. “Ha…ha…ha….rasain..ya, habisnya selama ini kamu selalu iseng ke aku sih, jadi penyakit gokil-ku kumat. ‘Anyway…..I’m so sorry for being gokil to you’…, ‘Land,” kataku. “Ok, no problem,” jawabnya pendek. Lucunya, kita berdua akhirnya salaman dan ketawa bareng-bareng menyadari kekonyolan kita tersebut. “Lu harus janji nggak bakalan cerita ke siapa-siapa tentang hal ini ya Ay’,” kata Roland. “Ok, don’t worry….my lips will be sealed,” jawabku.

Tak terasa 4 gelas cappuccino telah kita habiskan bersama dan akhirnya kita pun bergegas pulang. “Aduh, aku jadi males balik Ay’. Musti kuapakan dong kamar hotelnya,” kata si Roland ketika jalan bareng meninggalkan Starbuck Coffee menuju tempat taxi. “Sudahlah daripada mubazir, kau nikmati saja kamar hotelnya, tidur sambil peluk ‘tuh guling sepuasnya, kalau nggak puas…cari saja guling hidup lagi,” ledekku. “Tetep saja ‘lu, Ay’……meledek orang yang sudah ‘lu bikin ‘deeply-down,” katanya memelas. Sesampai di lobby depan Plaza Senayan, segera kupanggil taxi yang kebetulan ‘stand-by’. “Lu tega ninggalin aku sendirian nih, Ay’,” kata si Roland. “Khan sudah gede, nggak boleh takut dong…sendirian,” jawabku sekenanya, dan langsung masuk ke taxi yang sudah siap di depanku. “Bye..Roland..have a nice week-end,” kataku sambil kulambaikan tangan di jendela dan memandang wajah gantengnya berlalu.

'Peace'...man...

Sesampai di rumah aku langsung mandi dan menikmati segarnya air yang mengguyur tubuhku yang sudah gerah. Selesai mandi, kunyalakan televisi, kuambil camilan kacang bawangku dan kunikmati sambil tiduran nonton acara di TV. Jam sudah menunjukkan angka 12, tiba-tiba handphone-ku berdering dan kulihat nomor Roland memanggil. “Sudah tidur Ay’?” suara Roland terdengar lirih di telpon. “Baru mau akan, ‘Land. Kamu ini lagi dimana, sudah tengah malam begini kok telpon?” balasku. “Aku tadi coba balik lagi ke hotel Ay’, tapi aku nggak tahan sendirian kepikiran ‘lu melulu. Akhirnya gue balik ke kantor mengambil mobil, dan sekarang ini aku lagi dalam perjalanan menuju Bandung nyetir sendiri. ‘Lu memang tega ya Ay’,” katanya. “He…he…he…’sorry’ deh, ‘Land….semoga nyampai di Bandung ‘lu bisa ketemu anakmu dan gue jamin pikiran ‘lu akan kembali normal,” kataku masih agak sedikit tengil. “Gue masih nggak percaya saja Ay’, dengan gokil kau membatalkan kencan kita begitu saja, padahal aku yakin banget kalau ‘lu itu sebenarnya masih tertarik ke aku,” lanjutnya malah kembali nge-gombal. “Sudahlah ‘Land, percayalah kalau gue itu 100% gokil. Masalah seneng ke ‘lu, gue ngaku kalau memang sebenarnya gue masih suka sama ke-ganteng-an ‘lu,” jawabku nggak kalah gombal. “Jadi, kalau sekarang belum berhasil, lain kali masih bisa kencan dong Ay’,” pancingnya. “No way….gorgeous,” jawabku. “Sudah malam ‘Land, gue ngantuk berat nih….’lu khan lagi nyetir juga, bahaya kalau sambil telpon-telponan begini….sudah ya….bye…,” kataku kemudian. “Ok, deh…good night hon’…,” balasnya mengakhiri obrolan kita di telpon.

Begitulah cerita konyol itu, dan sesudah kejadian itu kami kadang masih kontak lewat telepon tapi seringnya ngomongin kerjaan masing-masing. Selanjutnya setelah hampir 6 bulan tidak kontak, kuterima telepon terakhir Roland dari Kalimantan, dan bilang kalau dia lagi ngerjain proyek bersama ‘oil & gas company’. Dia masih penasaran mau mengajak kembali kencan, malahan sudah nentu-in tanggal dan tempatnya. Walaupun aku tidak meng-iya-kan ajakannya, tetep saja dia bilang pada tanggal tersebut dia mau nunggu-in aku di tempat itu. Memang bisa ikutan gila kalau dituruti, tapi kubiarin saja tanggal tersebut berlalu tanpa kejadian apa-apa dengan Roland, dan akhirnya kita pun benar-benar ‘lost of contact’ sama sekali.

Jadi, agak sedikit kaget dan penasaran juga-lah aku sekarang, kalau setelah hampir 4 tahun putus kontak sama sekali, kembali kuterima SMS ini dari si Roland. ‘Anyway’……kubiarin saja ‘Question Mark’ di kepalaku ‘go with the flow’ mencari jawabannya sendiri

Friday, January 18, 2008

"GOKIL the series"-2 : I’M SORRY GOOD BYE

Ervan adalah salah satu teman ‘chatting’-ku. Yang membuat kita jadi teman ‘chatting’ tetap adalah kita sama-sama suka nge-banyol, sama-sama suka menikmati musik, sama-sama suka nonton, serta kebetulan dia tinggal dan kerja di Bandung. Jadi omongan kita selalu nyambung, terutama kalau sudah ngobrol tentang hal-hal yang berhubungan dengan Bandung, karena memang aku pernah tinggal lumayan lama untuk kuliah dan juga kerja disana. Ngomongin tentang masa-masa kuliah dulu, ngomongin tempat-tempat main dan makan enak di Bandung, ngobrolin tentang musik dan film, cerita tentang kerjaan adalah antara lain menu chatting kita.
Setelah kira-kira sebulan menjadi teman ‘chatting’ tetap, akhirnya kita saling bertukar photo. “Kamu manis dan kelihatan selalu ceria Ay’…..sesuai dengan sosok cewek yang kubayangkan selama ini,” komentarnya pertama kali setelah dia ‘browse webpage photo gallery’-ku yang khusus berisi photo-photoku dengan segala macam gaya dan berbagai aktivitas. ‘Ganteng juga si Ervan ini, ‘score’ 8 dapet-lah,” batinku setelah kubuka photonya dari email yang dikirimnya lewat ‘Yahoo’. Tapi ketika dia minta komentarku tentang photonya, aku cuma jawab “..ya lumayan buat dilihat lah..”. Agak gengsi juga kalau mau bilang terus terang bahwa dia ‘ganteng’, males saja kalau nanti dia ke-ge-er-an dan ke-pe-de-an. Tak lama kemudian akhirnya dia bilang kalau pengin ketemu, “Aya, hari Kamis dan Jum’at minggu depan ini, kebetulan aku ada tugas kantor untuk presentasi di Jakarta. ‘Gimana kalau kita ketemuan?” Daripada ngumpet di rumah melulu, lumayan juga kalau ada teman main, tiba-tiba saja kumat isengku dan akhirnya kujawab, “Ok, saja ‘Van.”

Hari Kamis sore Ervan kontak ke ‘handphone’ dan ngasih tahu kalau dia sudah sampai di Jakarta dan nginep di Shangrilla hotel. “Ay’, kita ketemuan dimana enaknya,” tanyanya. “Aku samperin ke hotelmu saja ‘Van, kantorku dekat kok dari situ, paling 10 menit juga sampai. ‘Ntar kira-kira jam setengah enam aku sampai di hotel, kamu tunggu di ‘lobby’ bisa ?” jawabku. “Ok, kutunggu nanti di ‘lobby’ jam setengah enam ya,,” katanya.

Tepat jam setengah enam aku sampai di hotel Shangrila, kumasuki lobby hotel sambil kuperhatikan satu per satu orang yang duduk disana. Tiba-tiba terdengar suara cowok menyapa, ”Hi…Aya…ya?” Kuperhatikan sejenak wajahnya dan sambil tersenyum kujawab, ”Iya…kamu pasti Ervan?” Dia mengangguk dan segera mengajakku duduk di ‘lobby’ dan ngobrol, tak lama kemudian dia mengajak makan malam bareng di restaurant hotel sambil meneruskan ngobrol. Walaupun awalnya agak canggung sedikit, tapi selanjutnya obrolan dan candaan kita sudah seperti biasa kalau lagi ‘chatting’, mengalir saja. “Ay’, kalau ‘Jamz café’ di Bandung musiknya khan enak-enak, ‘gimana kalau besok malam kita ke ‘Jamz café’ yang di Jakarta ini, kata kamu musiknya juga lumayan enak.” Kuiyakan ajakan Ervan dan akhirnya kita janjian ketemu lagi besok malamnya.

Jum’at malam setelah makan ‘seafood’ di Benhil, kita menghabiskan malam di ‘Jamz café’ yang di Aston. Setelah puas menikmati musiknya, jam sebelas kita keluar dari café dan pulang bareng naik taksi sembari ngobrol sepanjang jalan. “Ay’, aku mau menghabiskan ‘week-end ‘ ini di Jakarta saja bareng kamu. Boleh nggak kalau hari Sabtu dan Minggu kita ketemuan dan main lagi?” ajaknya. Karena sudah dua malam ini rasanya nyaman dan asyik saja jalan sama Ervan, akhirnya tak kutolak ajakannya. “Ok, boleh saja ‘Van. Aku seringnya kalau hari Sabtu ke Pondok Indah barengan temanku untuk belajar renang, dan sekalian main-main di kolam luncurnya. Kamu mau nggak kuajak kesana? Khan kamu hobby dan jagoan renang katanya, jadi aku bisa belajar renang dari kamu dan nggak khawatir tenggelam. Terus kalau sudah bosen renangnya, bisa main-main di kolam luncurnya. ‘Ntar kalau sudah capai dan lapar kita tinggal makan ke Mall-nya. Dijamin seru and ‘fun’.” Dengan sangat antusias langsung dia jawab “Wah, setuju banget Ay’, terus Minggunya kemana kita?” Aku coba mikir sebentar dan tiba-tiba saja timbul ide untuk nonton film. “Nonton saja ke Plaza Senayan ya, lumayan ada film yang bagus dan baru sedang diputar disana,” kataku. “Ok deh Ay’, sip…aku juga sudah agak lama nggak nonton. Tapi biar gampang ketemuannya, mendingan besok aku pindah hotel saja yang dekat dengan rumahmu.”

Akhirnya Ervan pindah ke hotel Kemang. Hari Sabtu kita seharian main di Pondok Indah dan malamnya makan bareng di Cwie Mie Malang yang di Cilandak. Hari minggu kita ke Plaza Senayan nonton dua film sekaligus kemudian ngobrol dan makan bareng di ‘foodcourt’-nya. Sepulang dari Plaza Senayan, kuantar Ervan ‘check-out ‘ dari hotel dan langsung ke Gambir untuk pulang balik ke Bandung naik kereta Argo Gede.

Setelah pertemuan pertama tersebut, ‘chatting’ kita jadi tambah seru saja dan Ervan jadi sering menghabiskan ‘week-end’ di Jakarta bersamaku. Biasanya kita habiskan ‘week-end ’ dengan nonton film di Plaza Senayan, Blok M Plaza, atau di Planet Hollywood, serta kuajak olah raga minggu pagi : lari di GOR Senayan atau renang di Pondok Indah, GOR Cibubur atau di Gelanggang Samudra Ancol atau bulutangkis di Balai Rakyat Pasar Minggu. Tapi kadang kita juga iseng pergi ke Ragunan, TMII, Dufan atau ke Kebun Raya Bogor. Kalau tidak sempat ke Jakarta, dimintanya aku gantian menghabiskan ‘week-end’ ke Bandung dengannya. Kalau sedang di Bandung kita lebih suka menikmati alam di sekitar Bandung yang masih hijau dan berhawa segar, biasanya kita pergi ke lokasi-lokasi wisata alam di sekitar Lembang dan Ciwidey.

Aku sebenarnya merasa ‘enjoy’ dan asyik saja main sama Ervan, apalagi ternyata dia pun bukan tipe cowok yang ‘playboy’ atau suka iseng ke cewek. Tapi aku tidak merasa ada ‘feeling’ yang lain kecuali untuk berteman dan bersahabat saja dengannya. Ini lebih terasa setelah kurang lebih 3 bulan main bareng, pada suatu ‘week-end’ di Lembang, Ervan tiba-tiba mengungkapkan seluruh perasaannya terhadapku, yang intinya dia jatuh cinta dan ingin menjalin hubungan yang serius denganku. Untuk tidak mengecewakannya dan untuk menge-test perasaanku sendiri, akhirnya aku minta waktu seminggu untuk menjawabnya, dan dalam seminggu itu kita janjian untuk tidak saling kontak.

Setelah satu minggu, ternyata perasaanku ke Ervan tidak ada yang berubah, walaupun seminggu tidak ketemu rasanya ya biasa saja, tidak ada rasa ‘greng’ atau rasa ‘kangen banget’ di hati. Aku tidak merasakan ‘feeling’ yang seperti dulu ketika aku jatuh cinta ke Roby atau ketika sangat merindukannya walau hanya sehari tidak ketemu.

Melalui email, akhirnya kusampaikan ke Ervan kalau aku hanya ingin berteman dan bersahabat saja dengan dia, tapi tidak bisa menjalin hubungan yang lebih serius dengannya. Ternyata Ervan tidak bisa menerima keputusanku tersebut begitu saja. Walaupun sudah berkali-kali kukatakan ke Ervan bahwa aku hanya ingin berteman dan bersahabat saja, dia tetap ingin meyakinkanku kalau dia benar-benar mencintaiku. Tiap hari selalu kirim email atau ngajak ‘chatting’ atau telepon. Bahkan kadang tanpa janjian lebih dulu, pas ‘week-end’ dia sudah nongol saja di Jakarta menemuiku.

Lama-lama aku jadi merasa kasihan juga ke Ervan, khawatir saja kalau dia terlalu lama terbuai dengan perasaannya dan tidak bisa meninggalkan aku. Maka aku mau nggak mau harus menghindarinya dan memutus semua kontak-ku dengannya. Kebetulan aku mendapat tawaran ‘short-project’ di Bali selama 4 bulan, tanpa berpikir panjang aku terima tawaran tersebut. Kukirim email ke Ervan dan aku minta maaf ke dia karena aku akan pindah dari Jakarta dan kuminta dia untuk tidak menghubungi atau menemuiku lagi.

Aku ‘non active’-kan ‘account email’-ku, kuganti SIM-card HP ku dengan nomor baru dan aku berangkat ke Bali. Walaupun dalam 4 bulan aku akan kembali lagi ke Jakarta, tapi aku berpesan ke teman-temanku di rumah kalau seandainya ada cowok yang telepon atau mencariku, kuminta kasih tahu saja kalau aku sudah pergi dan tidak meninggalkan alamat yang baru.

I’m so sorry…….good bye, Ervan ……..aku masih ‘lulus gokil’ walaupun cuma nilai “D” yang kudapat.